Gara-gara Perang Iran – Lebih dari 36.000 Warga AS Hengkang dari Timur Tengah

Gara-gara Perang Iran, Lebih dari 36.000 Warga AS Hengkang dari Timur Tengah

Dari WASHINGTON, Departemen Luar Negeri AS mengungkapkan bahwa lebih dari 36.000 penduduk negara tersebut telah meninggalkan wilayah Timur Tengah sejak dimulainya konflik antara AS dan Israel melawan Iran. Angka ini menunjukkan jumlah warga Amerika yang berhasil kembali ke tanah air secara aman. Dalam pernyataan resmi, Asisten Menteri Luar Negeri Dylan Johnson menyebutkan bahwa pihaknya memberikan panduan keamanan serta dukungan perjalanan kepada ribuan warga negara AS yang berada di luar negeri.

Kebijakan Evakuasi

Johnson menambahkan bahwa Departemen Luar Negeri telah menyelenggarakan lebih dari dua puluh penerbangan charter untuk mengevakuasi penduduk AS dari beberapa negara, termasuk Oman, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Qatar, Arab Saudi, dan Israel. Namun, ia juga menyatakan bahwa sebagian besar warga AS yang meminta bantuan lebih memilih untuk tetap tinggal di tempat mereka atau memesan tiket penerbangan komersial.

“Sebagian besar warga Amerika yang telah meminta panduan telah menolak bantuan yang ditawarkan, memilih untuk tetap tinggal di negara tersebut atau memesan opsi penerbangan komersial,” kata Johnson, seperti yang dilaporkan oleh CBS News, Selasa (10/3/2026).

Pernyataan Trump Soal Akhir Perang

Presiden Donald Trump, dalam wawancara telepon yang dilakukan Senin sore, menyatakan bahwa perang melawan Iran telah hampir selesai. Menurutnya, AS kini sedang mempertimbangkan untuk menguasai Selat Hormuz. “Saya pikir perang sudah sangat lengkap, hampir,” ujarnya, berbicara dari klub golfnya di Doral, Florida.

“[Iran] tidak memiliki Angkatan Laut, tidak ada komunikasi, mereka tidak memiliki Angkatan Udara. Rudal mereka tinggal sedikit. Drone mereka diledakkan di mana-mana, termasuk pabrik pembuatan drone mereka,” tambah Trump.

Dalam beberapa hari pertama operasi, militer AS mengklaim telah menyerang lebih dari 3.000 target Iran. Trump menyatakan bahwa pihak Iran tidak lagi memiliki kekuatan militer yang signifikan. “Jika Anda perhatikan, mereka tidak punya apa-apa lagi. Tidak ada yang tersisa dalam arti militer,” imbuhnya.

Respons dari Pihak Iran

Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini, menolak klaim Trump bahwa perang hampir berakhir. Naeini mengatakan bahwa Teheran, bukan Washington, yang menentukan kapan konflik berakhir. Ia menyebut pernyataan Trump sebagai kebohongan dan menuduhnya mencoba mengklaim kemenangan militer yang tidak nyata.

“Kami tahu bahwa amunisi Anda akan segera habis dan Anda mencari jalan keluar yang terhormat dari perang ini,” ujarnya. “Mengapa Anda tidak mengatakan yang sebenarnya kepada rakyat Amerika? Trump tidak ingin orang Amerika tahu bahwa semua infrastruktur militer AS di wilayah Teluk Persia telah dihancurkan,” lanjut Naeini.