Program Terbaru: Demo “No Kings” di AS, Bisakah Akhiri Konflik Timur Tengah dan Tumbangkan Trump?

Demo “No Kings” di AS: Apakah Bisa Memengaruhi Perang Timur Tengah dan Membawa Trump Turun?

Aksi demonstrasi besar-besaran dengan tema “No Kings” dilakukan di 3.300 lokasi di berbagai kota Amerika Serikat pada Sabtu (28/3/2026). Demonstran menuntut Presiden AS, Donald Trump, untuk berhenti memperpanjang konflik dengan Iran. Salah satu peserta aksi, Ken Wyben dari New York City, menilai serangan bersama AS dan Israel terhadap Iran menunjukkan Trump telah kehilangan kendali.

“Presiden saat ini terlihat tidak terkendali. Semua perang yang pernah saya ikuti, saya merencanakannya lebih matang,” ujarnya, dikutip Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Durasi Perang Timur Tengah

Guru Besar Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menyatakan, aksi “No Kings” berpotensi memengaruhi keberlanjutan konflik di Timur Tengah. Menurutnya, demonstrasi bisa mendorong Trump untuk lebih moderat atau mundur dari jabatannya.

“Ya, demo bisa membuat Trump berhenti agresif,” katanya, saat diwawancara Kompas.com, Senin (30/3/2026).

Menurut Hikmahanto, keberhasilan penyelesaian perang bergantung pada dukungan dalam negeri, baik dari politisi maupun rakyat. Stamina negara-negara terlibat, seperti AS, Israel, dan Iran, juga menjadi faktor penting.

“Apakah mereka masih mampu melanjutkan perang? Stamina ditentukan oleh persediaan rudal, drone, pesawat tempur, pasukan, serta anggaran,” jelasnya.

Selain itu, keterlibatan negara-negara besar seperti Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan Tiongkok serta respons internasional juga bisa memengaruhi keputusan berperang.

“Bila konflik terus berlangsung, dunia mungkin mengambil langkah isolasi atau embargo terhadap pihak yang bertindak,” tambah Hikmahanto.

Kemungkinan Penggulingan Trump dan Perbandingan dengan Riwayat Politik Indonesia

Demo “No Kings” juga berdampak pada dinamika politik AS. Hikmahanto menyebut, aksi ini bisa menjadi alat untuk menggulingkan Trump, tetapi melalui proses impeachment oleh Kongres.

“Bisa, tapi harus melalui tindakan resmi Kongres,” katanya.

Ia menyoroti perbedaan antara peristiwa lengsernya Soeharto pada 1998 dan situasi saat ini.

“Peristiwa itu mengakhiri Orde Baru dan memulai era Reformasi, sedangkan dinamika politik AS sekarang berbeda,” terang Hikmahanto.

Dalam era digital, warganet global pun bisa memperkuat tekanan pada pihak-pihak yang terlibat perang. Jika kehabisan stamina dan tidak mendapat dukungan rakyat, kemunculan mediator akan menjadi solusi utama.

“Negara yang bersedia menjadi penyelamat muka bisa memberikan strategi keluar dari perang,” imbuhnya.