Hasil Pertemuan: Mengapa Harga Plastik Naik Drastis Imbas Perang AS Vs Iran dan Bisa Sampai Kapan?

Lonjakan Harga Plastik di Tengah Perang AS vs Iran

Media sosial ramai membahas kenaikan harga plastik yang signifikan. Akun @tanyakanrl mengunggah informasi pada Rabu, 1 April 2026, mengatakan bahwa harga plastik di daerahnya melonjak hampir 50 persen, dari 9 ribu rupiah menjadi 16 ribu rupiah. Ini memberi dampak besar bagi usaha yang bergantung pada bahan ini.

Pemicu Kenaikan Harga

Kenaikan harga plastik ini diakui oleh para ahli sebelumnya. Profesor praktik rantai pasokan di Universitas Syracuse, Patrick Penfield, menegaskan bahwa sebagian besar produk plastik berasal dari minyak bumi, yang harganya melonjak lebih dari 40 persen sejak perang dimulai 28 Februari 2026. Akibatnya, barang seperti wadah makanan, botol minuman, dan kantong sampah berpotensi naik dalam beberapa minggu mendatang.

“Ini adalah salah satu hal yang membuat Anda menggelengkan kepala di toko. Anda tidak tahu apakah harganya lebih mahal karena inflasi umum, kenaikan sewa, tetapi Anda membayar untuk ini,”

ujar Joseph Foudy, profesor ekonomi di NYU Stern School of Business, seperti dilansir CNN.

Peran Selat Hormuz dalam Kenaikan Harga

Kenaikan harga plastik tak lepas dari penutupan Selat Hormuz, jalur distribusi energi global yang sangat vital. Hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair membutuhkan jalur ini. Akibat penutupan, harga minyak mentah naik dari 67 dollar AS per barel menjadi 98 dollar AS per barel pada 20 Maret 2026. Sementara harga gas alam acuan di Asia dan Eropa melonjak lebih dari 60 persen dalam periode yang sama.

Produksi Plastik Terganggu

Pusat Hukum Lingkungan Internasional menyebutkan bahwa lebih dari 99 persen plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Artinya, kenaikan harga energi bukan hanya memperbesar biaya produksi, tetapi juga biaya bahan baku seperti polietilen (PE) dan polipropilen, dua jenis plastik paling umum.

“Dalam 25 tahun saya (di industri plastik), saya belum pernah melihat peningkatan PE (bulanan) sebesar ini sebelumnya,”

kata Michael Greenberg, CEO Plastics Exchange dan Resintel, platform intelijen pasar.

Dampak pada UMKM

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, memprediksi lonjakan harga plastik akan berlangsung lama. Besarnya kenaikan diperkirakan mencapai 40-70 persen. “Meski ada deeskalasi perang di Timur Tengah, disrupsi bahan baku plastik bisa bertahan 3-6 bulan kedepan,” jelasnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (2/4/2026).

Kondisi ini akan memberi tekanan pada Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), terutama di sektor makanan dan minuman. Apalagi, Pemerintah Indonesia baru saja mengumumkan kebijakan kerja dari rumah (WFH) setiap Jumat, yang berpotensi meningkatkan penggunaan plastik sebagai bungkus. Dalam jangka panjang, kebijakan ini bisa mengurangi profit UMKM.

Bhima menyarankan pemerintah segera menurunkan PPN untuk plastik dari 11 persen menjadi 8 persen. Menurutnya, langkah ini bisa meringankan biaya jual plastik kemasan, terutama saat daya beli masyarakat sedang menurun, terutama di segmen menengah ke bawah.