Hasil Pertemuan: Ambil Peluang Saat Perang, Pemasok Senjata Baru AS Mengaku Salah
Ambil Peluang Saat Perang, Pemasok Senjata Baru AS Mengaku Salah
Dalam upaya memperkuat keamanan nasional, pemerintah Amerika Serikat mengambil tindakan tegas terhadap penyedia alat kecerdasan buatan (AI) Anthropic. Keputusan ini diambil setelah presiden Donald Trump memerintahkan seluruh lembaga federal untuk tidak menggunakan tool AI Claude yang dikembangkan perusahaan tersebut. Tindakan tersebut dilatarbelakangi oleh sikap CEO Anthropic, Dario Amodei, yang menolak penggunaan Claude dalam pengembangan senjata otonom atau kegiatan pengintaian terhadap warga AS.
Keputusan Trump diumumkan pada Jumat, 27 Februari, tepat sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran yang dilakukan pada Sabtu, 28 Februari. Meski demikian, laporan dari WSJ menyebutkan bahwa militer AS tetap memanfaatkan Claude AI dalam operasi intelijen, membantu pemilihan target, serta simulasi perang. Perusahaan Anthropic pun mendapat respons cepat dari masyarakat, terutama setelah aplikasi Claude melonjak ke peringkat pertama di toko aplikasi Apple AS pada 28 Februari. Peringkat ini sangat mengejutkan, mengingat sebelumnya Claude berada di posisi 131 pada 30 Januari.
Di sisi lain, Sam Altman, CEO OpenAI, mengumumkan perusahaan telah meneken kesepakatan baru dengan pemerintahan Trump sebagai pemasok alat AI untuk keperluan militer. OpenAI menjadi pengganti Anthropic yang sebelumnya mendapat kontrak besar. Aksi Altman ini menarik perhatian pengguna ChatGPT, layanan chatbot yang ia pimpin, banyak dari mereka melaporkan menghapus aplikasi dan beralih ke Claude.
Pengakuan Kesal Altman
Saat reputasinya tercoreng, Altman akhirnya membuka suara. Dalam memo yang dibagikan ke platform X, ia mengakui kesalahan perusahaan dalam terburu-buru meneken kerja sama dengan Departemen Pertahanan AS. Altman menegaskan bahwa revisi akan dilakukan untuk menyempurnakan kontrak, termasuk menambahkan ketentuan yang jelas mengenai prinsip dan nilai perusahaan.
“DoW memahami batasan untuk melarang pelacakan, pengawasan, atau pemantauan yang disengaja terhadap warga negara AS, termasuk melalui pengadaan atau penggunaan informasi pribadi atau informasi yang dapat diidentifikasi yang diperoleh secara komersial,”
kata Altman. Ia juga menyebutkan bahwa alat AI OpenAI tidak akan digunakan oleh lembaga intelijen seperti NSA. “Ada banyak hal yang teknologi ini belum siap untuk menanganinya, dan banyak area yang belum kita pahami mengenai kompromi yang diperlukan untuk keselamatan,” tambahnya.
Dalam unggahan di X, Altman mengakui bahwa kesepakatan dengan DoW terasa oportunistik dan kurang hati-hati. Namun, ia menegaskan dukungan terhadap Anthropic yang dijegal oleh Trump. “Saya berharap Departemen Pertahanan menawarkan persyaratan yang sama kepada Anthropic seperti yang telah kami sepakati,” tulis Altman, menyoroti upaya untuk mencegah dampak lebih buruk dari tindakan tersebut.
Gerakan penghapusan ChatGPT yang memengaruhi bisnis OpenAI membuat Altman terpaksa memperbaiki posisi perusahaan. Meski keputusan Trump menciptakan ketegangan, OpenAI berkomitmen bekerja sama dengan Pentagon dalam peningkatan pengamanan teknis.
Kesimpulan
Perang antara AS dan Iran menjadi momentum penting bagi perubahan kebijakan pemasok AI. Sementara Anthropic terpuruk, OpenAI mencari jalan keluar dengan mengakui kesalahan dan menawarkan revisi. Langkah ini menunjukkan dinamika politik dan teknologi yang saling berkaitan dalam situasi krisis.
