Keluhan Tidak Ditanggapi – Warga Bener Meriah Aceh Perbaiki Jembatan Wih Kanis Secara Swadaya

Keluhan Tak Dijawab, Warga Swadaya Perbaiki Jembatan Darurat di Bener Meriah

Dua belas hari setelah bencana banjir dan longsor menghancurkan daerah Bener Meriah, warga Kecamatan Mesidah masih mengandalkan jembatan sementara dari bambu untuk menyeberang Sungai Wih Kanis yang deras alirannya. Jembatan ini digunakan setiap hari oleh ratusan orang, termasuk petani dan pejalan kaki, meski kondisinya semakin rapuh dan berisiko.

Inisiatif Warga Setelah Terisolasi

Jembatan bambu tersebut dibangun secara spontan oleh masyarakat setelah akses jembatan permanen rusak, memutus koneksi mereka. “Ini satu-satunya jalan yang dipilih warga saat ini, meski ada jalur alternatif melalui Pondok Baru – Samar Kilang. Tapi perjalanan memakan waktu satu hingga dua jam, jadi kita tetap memilih jembatan ini,” terang Aman Gawa, warga setempat, Jumat (27/2/2026).

“Jembatan ini sudah mulai renggang dan rapuh. Kalau nanti musim panen tiba, kecelakaan bisa terjadi lagi. Bambu tidak tahan lama, jadi warga takut kalau tidak diperbaiki segera,” kata Aman Gawa.

Kecamatan Mesidah menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak bencana. Dari 14 desa, sebagian besar bergantung pada jembatan Wih Kanis, terutama desa-desa di area Kemukiman Tungku Tige. Sementara desa lain bisa menggunakan rute alternatif, tetapi waktu tempuh yang lebih lama membuat warga tidak memilihnya.

Keluhan Tidak Dijawab, Warga Bertindak Sendiri

Banyak warga mengeluhkan bahwa Pemerintah belum memperbaiki jembatan tersebut meski telah dilaporkan. “Kami sudah menyampaikan keluhan selama tiga bulan, tapi belum ada tindakan nyata. Mereka hanya menjawab ‘ya’ tapi tidak mengambil langkah konkret,” ujar seorang warga.

“Kalau jembatan darurat rusak lagi, nasib kami bisa terancam. Warga lain juga melakukan perbaikan swadaya, seperti jalan Weh Ni Pase. Kita harus bertindak sebelum situasi semakin memburuk,” tambah warga lainnya.

Selama tiga bulan terakhir, warga terus berupaya memperkuat jembatan bambu tersebut secara gotong royong. Mereka telah sepakat mengumpulkan dana patungan untuk memperbaikinya, karena khawatir kecelakaan terus terjadi jika tidak segera ditangani. Dengan kondisi yang kritis, masyarakat Bener Meriah kini menjadi pengawas langsung atas proyek pembersihan dan perbaikan infrastruktur mereka sendiri.