Program Terbaru: Era Perang Drone, Kenapa AS Masih Andalkan Jet Tempur dan Kapal Tradisional?

Era Perang Drone, Kenapa AS Masih Andalkan Jet Tempur dan Kapal Tradisional?

Penyerangan AS ke Iran Menggarisbawahi Pentingnya Alutsista Tradisional

Dominasi pesawat nirawak dalam konflik Ukraina membuat para ahli memprediksi akhir era senjata berawak yang mahal. Namun, operasi militer AS terhadap Iran terbaru menunjukkan bahwa kapal perang dan jet tempur masih menjadi pilar utama kekuatan Pentagon. Meski drone terbukti lebih ekonomis dan aman, negara tersebut tetap mengerahkan armada besar saat bertempur di Timur Tengah dan Venezuela.

Kapal-kapal angkatan laut, termasuk dua kapal induk dan 13 kapal perusak, serta lebih dari 200 pesawat seperti F-35, F-15, F-16, dan jenis pendukungnya, dibawa ke wilayah konflik. Pesawat pengebom B-1, B-2, dan B-52 juga terlibat dalam serangan terhadap Iran dari pangkalan luar negeri. Eric Rosenbach, mantan kepala staf menteri pertahanan selama pemerintahan Obama, mengatakan: “Kekuatan militer tradisional tidak hilang, bahkan semakin krusial dalam konteks perang masa kini.”

“UAV memiliki jangkauan serupa, tetapi sangat sedikit yang bisa mendeteksi atau menyajikan sensor serta senjata sekuat F-35,” lanjut Rosenbach dalam wawancara dengan Wall Street Journal. Di sisi lain, rudal Tomahawk dari kapal AS memiliki hulu ledak 453 kilogram, jauh lebih besar dari drone Shahed Iran yang biasanya hanya membawa 40 kg, atau bahkan 0,4 kg pada beberapa jenis drone yang digunakan di Ukraina.

Kemampuan responsif pilot berawak menjadi keunggulan yang tidak bisa diabaikan. Pesawat tempur bisa menyesuaikan perubahan situasi, sementara drone rentan terhadap gangguan elektronik. Mark Gunzinger, mantan pilot B-52, menekankan: “Tidak ada drone yang mampu membawa bom 13,5 ton, seperti yang dilakukan B-2 untuk menembus silo rudal.”

Konflik di Timur Tengah: Drone Jadi Ancaman, Tapi Kekuatan Berawak Tetap Dominan

Iran memanfaatkan drone Shahed untuk menargetkan fasilitas militer AS dan negara-negara tetangga, menyebabkan korban yang signifikan. Dalam beberapa hari terakhir, satu serangan drone menewaskan enam anggota angkatan laut AS. Sementara itu, AS sedang mempersiapkan drone kamikaze baru untuk bertahan.

Parlemen Iran menyatakan bahwa wilayah Timur Tengah tidak akan tenang selama pangkalan militer AS masih ada di sana. Pada Januari lalu, ketika AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro, mereka menggunakan pesawat dan helikopter serang. Meskipun alat itu dianggap kurang efektif di Ukraina, di Iran, pesawat berawak masih mampu melakukan serangan yang lebih intens.

Kekhawatiran Taktis: Apakah AS Bisa Menjaga Superioritas Udara Terhadap Tiongkok?

Korban di Ukraina sekitar 70 persen disebabkan oleh serangan drone, sementara Rusia kehilangan ribuan kendaraan tempur. Namun, Tiongkok mungkin mampu mengancam kapal AS dengan rudal hipersonik, yang bisa menjangkau ratusan mil dari pantai. Ini menimbulkan pertanyaan bagaimana AS bisa membangun keunggulan udara dalam konflik masa depan.

Strategi militer Iran terhadap Yaman juga diuji dalam perang dengan Israel. Houthi, yang didukung Iran, terus memperlihatkan kelemahan dalam menargetkan dengan akurat, terutama setelah tiga jet F-15 AS jatuh di Kuwait. Meskipun drone mengubah bentuk perang modern, kekuatan berawak tetap diperlukan untuk menghadapi ancaman yang lebih rumit.

Sebuah laporan dari International Institute for Strategic Studies menyebutkan bahwa drone hanya menjadi salah satu alat, tetapi tidak menggantikan kecepatan dan presisi pesawat tempur. Dengan memadukan kedua teknologi, AS tetap mempertahankan dominasi militer di berbagai front.